Darven melayang dengan ringan di udara, dua alat logam simetris di lengannya mulai bergetar. Suara dengungannya semakin nyaring

BWUUUNGK!

Dan tiba-tiba tekanan gravitasi yang padat menghantam tanah di bawahnya. Tanah bergemeretak. Arena seolah melengkung, membentuk kubangan cekung. Leena masih berdiri tepat di tengah sebelum seluruh tanah runtuh.

Namun ia sudah lenyap sebelum retakan pertama muncul.

Tubuhnya melesat ke samping, ringan dan cepat, seperti bayangan cahaya yang menari dalam angin. Ia muncul kembali di udara, melayang di sisi kiri Kazzeth.

BZZZZZT!

Suara semburan logam terdengar seperti tembakan meriam kecil. Duri-duri hitam mencuat keluar dari tubuh Kazzeth, menembus udara dengan pola melingkar yang mengelilingi Leena. Setiap duri menari dalam kecepatan tinggi, menjerit seperti anak panah raksasa.

Leena memutar tubuh di udara, menghindari satu demi satu duri dengan manuver berbahaya. Pedangnya terangkat, dan

TING! TING! TING!

beberapa duri mental balik karena tebasan akuratnya.

"Lihat itu! Dia memotong duri dengan satu gerakan!" pembawa acara berseru dari atas menara siaran. "Tapi tunggu... Lorrik bergerak!"

WHUUUMMM!

Lorrik tak melompat. Ia menghantamkan palu plasma ke arah tanah sehingga meledak dan mendorong dirinya ke udara seperti peluru meriam. Tubuhnya berpendar merah terlempar ke atas, dan palu besar di tangan kanannya menciptakan kilatan plasma berbentuk spiral saat melesat turun.

DUAARRK!

Tanah terguncang keras saat Lorrik menghantamkan palu tepat ke arah Leena yang baru saja mendarat menghindari duri serangan Kazzeth.

Gelombang kejut efek dari serangan Lorrik menyebar ke segala arah, hingga mendorong Kazzeth dan Darven mundur.

Namun serangan sedahsyat itu dengan mudah di hindari Leena hanya dengan menggeser langkahnya setengah jengkal, cukup untuk lolos dari palu yang menciptakan lubang sedalam dua meter.

"Tidak mungkin!" teriak seseorang dari tribun. "Dia menghindar dari palu itu?!"

Belum sempat Leena membalas serangan Lorrik, Darven sudah pulih dan menurunkan tubuhnya dengan posisi menggantung di udara. Perangkat di punggungnya berputar cepat

WREEEENGGG!

Lalu mengirimkan medan gravitasi dalam pola spiral menyempit. Leena terguncang, tubuhnya tertarik ke tengah pusaran yang menekuk ruang seperti air diputar keras.

Kazzeth tidak menyia-nyiakan kesempatan. Duri-duri Kazzeth berputar liar, mengikuti medan gravitasi. Mereka membentuk lingkaran maut yang mengepung Leena dari segala sisi. Di luar pusaran, Lorrik bersiap dengan ledakan kedua, palunya memanas sampai logamnya tampak meleleh.

"Mereka menjebaknya!" teriak komentator dengan suara tegang. "Dia terperangkap dalam kombinasi mematikan, gravitasi Darven, duri racun Kazzeth, dan palu plasma Lorrik!"

"MATI SAJA!" teriak Lorrik sambil menghantam ke arah pusaran.

Namun tepat sebelum palu itu mencapai titik benturan, cahaya keperakan memotong medan gravitasi dalam kilatan tajam. Leena bergerak dalam kecepatan tak terdeteksi, mengiris pusaran dan menyayat bagian luar alat Darven

ZZZZRAAKK!

Leena lalu melesat ke arah Kazzeth, tubuhnya seperti bayangan salju.

SRAAK!

Pedangnya menebas punggung Kazzeth. Duri-duri yang belum sempat ditembakkan terputus dari akarnya, lalu meledak di tubuhnya sendiri dalam semburan racun logam.

"AARRGHH!!"

Kazzeth jatuh berlutut, menggigil karena racun miliknya mulai masuk ke tubuh. Namun ia masih bertahan. Ia menggeram, menarik logam dari tanah untuk membentuk perisai melindungi dirinya.

Darven tak tinggal diam. Ia melempar alat berbentuk bulat ke arah Leena

TUK! TUK!

Dan perangkat itu meledak menjadi kubus medan gravitasi tertutup. Seketika, Leena terjebak dalam ruangan tanpa arah, tertarik oleh titik-titik gravitasi kecil yang menghimpit dari segala penjuru.

Lorrik datang dari samping, melompat ke sisi kubus dan menghantam kubus tersebut.

BOOMM!

Hantaman Lorrik memaksa dindingnya mendesak Leena lebih keras.

"Akhirnya! Mereka menjepitnya! Dia tak bisa keluar dari situ!" suara penonton memuncak dalam sorak.

Namun saat suara tawa mulai muncul, terlihat kilat-kilat kecil di dalam kubus.

Para penonton dan keempat peserta melihat sosok Leena yang terlihat melayang dengan pedang mengarah keatas dipegang kedua tangannya.

Leena yang ingin segera menyelesaikan pertandingan ini, tidak lagi ingin menundanya. Dengan penuh konsentrasi, Leena menyalurkan kekuatan ke pedangnya untuk mengeluarkan salah satu jurus terbaiknya.

"VOID CLEAVING SLASH!"

Para penonton merasa bingung dengan suara yang terdengar dari kubus.

Namun tidak lama, terlihat Leena mengayunkan energi pedang yang memancarkan cahaya cemerlang.

CHRAAAK!

Kubus yang mengekang Leena hancur terkena ayunan pedang dengan kekuatan yang luar biasa. Satu per satu titik gravitasi padam, lalu seluruh kubus runtuh. Energi pedang itu tidak berhenti dan meluncur deras, membelah angin dan menyerang lawan-lawannya.

"TIDAKKK!"

Suara teriakan keras dari Kazzeth, Lorrik dan Darven yang terlempar karena ayunan energi pedang yang di lepaskan Leena.

Mereka beruntung karena Leena tidak bermaksud membunuh mereka. Serangan yang dikeluarkan sudah di kurangi kekuatannya sehingga membuat mereka hanya terluka dan dapat segera pulih dalam beberapa hari, selain itu dia juga akan kesulitan bergerak selama beberapa saat.

Para penonton terdiam, mereka semua masih belum menyadari perubahan situasi yang terjadi.

Setelah debu yang berterbangan berkurang, sosok Leena muncul, tubuhnya terlihat baik-baik saja, bahkan pakaiannya tidak terlihat kotor. Dengan matanya tetap tajam memandang kearah musuh-musuhnya yang terlihat terluka dan berusaha untuk bangkit.

"Lihat dia berhasil!" Kata salah satu penonton.

"Baguslah, aku semakin yakin akan membayarnya untuk menjadi istriku." Suara di sisi lain juga terdengar.

Tidak sedikit para penonton yang juga memiliki kemampuan bertarung, merasa gemetar badan mereka melihat kekuatan yang dikeluarkan Leena.

Bukan gemetar karena takut, melainkan melihat potensi kekuatan yang dimiliki Leena dan mereka ingin mendapatkannya.

Leena mengacungkan pedangnya...

"Menyerahlah!"

Namun sebelum mereka menjawab, sesuatu terjadi.

Duri-duri Kazzeth yang tersisa di tanah... mulai bergerak sendiri.

Perisai logam yang di pegangnya terangkat, bukan oleh tangannya. Ia menyadarinya terlalu lambat. Perisai itu berbalik dan menghantam dadanya sendiri.

BRAAAKK!!

Kazzeth terlempar ke belakang, darah menyembur dari mulutnya. Dan jarum-jarum duri menusuk menembus tubuhnya.

Jeritannya tertahan oleh leher yang tertusuk puluhan duri racun. Tubuhnya terhuyung, jatuh perlahan seperti pohon tumbang yang sudah lama menunggu ajal.

Lorrik yang baru bisa berdiri setelah terkena serangan dari Leena merasa kaget. Palunya, yang tadi menyala merah, bergetar hebat, lalu dengan gerakan kasar menghantam lututnya sendiri.

CRAAKKK!

Jeritannya menggema keras, lalu palu itu kembali naik dan menghantam bagian belakang kepala Lorrik. Seketika tubuh besar itu roboh.

Darven menoleh ke arah alat di lengannya yang mulai bergerak sendiri. Matanya melebar.

"TI-TI—"

BOOOMMMM!!

Alat itu meledak. Tubuh Darven terpental ke dinding arena, membentur logam dengan suara menghentak. Tak ada gerakan. Tak ada suara.

Penonton membisu. Lalu satu suara berkata lirih,

"Itu... Apakah itu ulah gadis itu?"

"Lihat!" Kata salah satu penonton sambil menunjuk ke arah Leena dengan tegang.

Pedang di tangan Leena tiba-tiba lepas dari genggaman Leena lalu terbang dan bergerak menusuk tubuh Leena, namun dengan mudah Leena menghindar dan menangkap kembali pedangnya.

Di arah lain, duri-duri dan palu mendadak terbang ke sebuah arah dan berputar seolah mengelilingi seseorang.

Lampu sorot bergerak perlahan ke tepi arena, ke satu sosok misterius yang dilupakan. Jubah panjangnya bergelayut di udara diam, dan mata di balik topeng menatap dingin ke arah sisa-sisa tubuh yang baru saja terbantai oleh senjata mereka sendiri. Dengan tangan terangkat ke arah para lawannya.

"Dia... Khorr," ucap pembawa acara dengan nada tercekik. "Apa yang telah dia perbuat? Apakah dia yang melakukan itu semua?"

Leena berdiri di tengah arena, pedangnya masih di genggamannya tanpa bisa dia gerakkan. Tapi sorot matanya kini tertuju pada satu arah, Khorr, yang masih belum bergerak.

"Bagaimana cara dia melakukannya? Aku tidak bisa melihatnya." Batin Leena.

Leena segera menyalurkan qi spiritual ke pedangnya, dan pedangnya mulai bisa digunakannya kembali. Leena lalu mengangkat pedang ke arah Khorr dan bersiap menghadapinya.

Leena tahu, pertarungan belum selesai dan dia bisa merasakan lawannya ini memiliki kekuatan yang tidak bisa di remehkan.

Riuh rendah penonton pecah seketika.

"Dia yang membunuh mereka?"

"Tidak mungkin!"

"Dia tak bergerak dari tadi… tidak menyerang…"

Leena berdiri, tubuhnya masih tegap. Matanya memandang lurus ke arah Khorr yang kini mulai melangkah ke tengah arena. Suara langkahnya tak terdengar, namun setiap geraknya membawa hawa sunyi yang menghapus dentum pertempuran barusan.

Pertarungan belum selesai. Tapi kini, hanya dua yang tersisa.

Dan atmosfer arena berubah. Mencekam. Membeku. Seolah seluruh angin pun enggan bersuara.